Senin, 21 Mei 2012

RAMBU-RAMBU PERJALANAN MENUJU KAMPUNG AKHIRAT


        mudik yang selalu kita lakukan adalah salah satu bagian kecil dari perjalanan pulang kita ke kampung halaman abadi, yaitu kampung akhirat. Jika perjalanan mudik saja kita persiapkan dengan matang, maka sudah selayaknya perjalanan pulang ke kampung akhirat harus lebih kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Di dunia ini, kita semua adalah perantau, kita semua adalah musafir. Tidak selamanya kita akan berdiam di dunia ini. Sebagaimana telah digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kita di dunia ini laksana seorang musafir yang berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon yang kemudian akan berlalu untuk melanjutkan perjalanan. Maka Rasulullah SAW berpesan, “Kun fid dunya ka annaka ghoriibun aw 'aabirus sabiil - Jadilah dirimu di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir”. (HR. Bukhori).          


                Itulah gambaran kehidupan kita di dunia. Dunia yang kita tempati saat ini hanyalah persinggahan sementara. Jangan sampai kita terkecoh akan keindahan dan kenikmatannya sehingga melupakan kita akan kampung akhirat. Agar perjalanan kita di dunia menuju kampung akhirat bisa sukses maka setidaknya ada beberapa rambu-rambu yang harus senantiasa kita patuhi, yaitu:
1. Menetapkan Tujuan. Sebuah perjalanan akan sukses jika pertama kali kita menetapkan suatu tujuan yang jelas. Jika kita berenacana mudik tetapi tujuan kita tidak jelas ke mana kita akan mudik, maka jangan harap kita bisa sampai pada tempat yang kita tuju, karena dari awal memang kita tidak punya tujuan. Demikian halnya, jika tujuan perjalanan hidup kita tidak jelas jangan harap kita bisa selamat meniti perjalanan ini hingga akhir. Lalu apa tujuan hidup kita yang sebenarnya? Tujuan hidup kita adalah Ridho Allah (mardhotillah). Dan akhir dari perjalanan panjang kita di dunia adalah kampung akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”
(QS Al-Baqoroh[2]:207)
2. Mempersiapkan Bekal. Bekal, apapun bentuknya sangat diperlukan dalam sebuah perjalanan. Saat kita mudik ke kampung halaman misalnya, sudah pasti kita akan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya juga membawa oleh-oleh menarik untuk kerabat kita di kampung halaman. Kita pasti tidak mau gagal dalam perjalanan hanya karena kita kehabisan bekal.Perjalanan kita menuju kampung akhirat jauh lebih panjang dari mudik yang selama ini kita lakukan. Perjalanan kita ini pun dalam rangka menemui dzat yang maha mulia, ialah Allah SWT maka oleh-oleh yang harus kita bawa dan kita persembahkan kepadaNYA pun harus jauh lebih spesial. Maka logikanya, bekal dan oleh-oleh yang harus kita siapkan juga harus lebih banyak dan lebih berbobot di mata Allah. Apa bekal yang paling baik di mata Allah? Bekal itu bukan harta benda berupa emas, permata maupun dolar amerika, bukan pula tahta, jabatan, pangkat dan kedudukan di mata manusia, bukan pula wanita yang selalu kita puja, bukan pula ketampanan dan kecantikan yang biasa kita banggakan. Bekal terbaik di mata Allah adalah taqwa. Allah berfirman,“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqoroh[2]:197). Taqwa adalah manifestasi dari amal perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang senantiasa berhati-hati dalam setiap amal perbuatan yang mereka kerjakan. Mereka senantiasa hati-hati dalam ucapan sehingga tidak pernah menyakiti Allah, Rasul dan manusia. Hanya ucapan-ucapan yang baik yang keluar dari mulutnya. Sebagaiamana pesan Rasulullah SAW, Qul khoiran aw liyasmut, katakan yang baik atau lebih baik diam. Mereka senantiasa hati-hati dalam makanan, sehingga tidak pernah ada makanan subhat yang masuk dalam perutnya apalagi yang haram. Pendeknya, mereka senantiasa hati-hati dalam mengerjakan setiap perintah dan larangan Allah dan RasulNYA, sehingga Allah senantiasa Ridho terhadap setiap amal yang mereka kerjakan. Dengan taqwa tersebut insya Allah kita akan senantiasa istiqomah menjalani hidup. Tidak mudah futhur di saat-saat dalam kondisi lingkungan yang buruk. Kita akan tetap bisa mewarnai lingkungan dan membawanya ke arah kebaikan (bi'ah ash-sholihah). Akhirnya kita juga bisa terus tetap semangat mengobarkan ruh dakwah di mana pun kita berada.
3. Berpedoman pada Petunjuk. Petunjuk mutlak diperlukan dalam setiap perjalanan, apapun nama dan jenis perjalanan tersebut. Seorang musafir, jika ingin selamat sampai tujuan pasti membutuhkan petunjuk arah berupa kompas, peta ataupun tanda alam. Jika petunjuk tersebut tidak ada, atau ada petunjuk tetapi tidak mau berpedoman padanya niscaya mereka akan tersesat sehingga tidak bisa sampai pada tempat yang mereka tuju. Demikian halnya dengan perjalanan panjang kita menuju kampung akhirat. Perjalanan tersebut justru lebih pelik dan berliku dari pada perjalanan-perjalanan yang kita lakukan selama di dunia.
                 Oleh karena itu, mutlak kita memerlukan petunjuk yang bisa mengantarkan kepada tujuan akhir kita. Petunjuk itu adalah Al Qur'an dan as-Sunnah. Rasulullah SAW., bersabda “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Muslim). Al Qur'an dan As-Sunnah, inilah petunjuk yang pasti benar. Petunjuk yang langsung disampaikan oleh Dzat yang Maha Benar, dzat yang Maha Pencipta.
4. Memiliki Teman. Teman dalam perjalanan sangat diperlukan agar bisa saling menjaga dan mengingatkan atau mungkin hanya sebagi teman ngobrol. Pastinya teman di sini adalah teman yang benar-benar halal secara syar'i. Tidak boleh seorang perempuan bepergian tanpa disertai muhrimnya. Tujuannya tidak lain, untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan.
                Dalam perjalanan panjang ini, kita pun membutuhkan teman yang baik (sholih). Dengan adanya teman yang sholih tersebut kita bisa saling menjaga dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran dan taqwa. Teman di sini bisa dipahami secara luas meliputi banyak hal, misalnya teman sejati dalam hidup kita (suami/istri), teman dalam sebuah keluarga (anak, saudara), teman dalam lingkungan tetangga, teman karib dalam medan dakwah, teman dalam dunia profesi dan sebaginya. Semua teman tersebut akan menentukan kualitas diri kita. Seseorang bisa dilihat dari keadaan teman-temannya. Itulah diantaranya beberapa rambu untuk persiapan mudik ke kampung akhirat.
                Oleh karena itu, Mudik idul fitri yang setiap tahun kita lakukan hendaknya jangan hanya dijadikan rutinitas tanpa makna bahkan terkesan dipaksakan. Jika memang benar-benar tidak bisa, tidak perlu kita memaksakan diri atau bahkan menghalalkan segala cara hanya demi untuk pulang mudik. Sehingga boleh jadi karena suatu hal kita tidak sampai ke kampung halaman tetapi justru sampai ke kampung akhirat, padahal bekal akhirat kita belum cukup. Naudzubillah. Maka dari itu, selama kita mudik dan saat kita bersama keluarga jangan pernah terlena, tetaplah istiqomah dalam ketaatan kepadaNYA.
                Bahkan seharusnya dengan rutinitas mudik tersebut hendaknya bisa memperbarui ingatan kita akan Mudik ke kampung akhirat yang pasti setiap orang akan kita tuju, sehingga kita bisa semakin mempersipkan diri dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Tetapkan tujuan, perbanyak bekal, bawa petunjuk dan cari teman yang sholih, insya Allah kita akan selamat sampai tujuan akhir. Wallahu a'lam bish-showab
Redaksi, dari berbagai sumber 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar